MUARA KELINGI



Sumber : https://www.google.com/search?q=peta+muara+kelingi&safe=strict&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwjaqJmkmN7uAhVDfH0KHcnqBmoQ_AUoA3oECBAQBQ&biw=1242&bih=516


Muara Kelingi Selayang Pandang
(Impian Kota Kecil Kecamatan)
Oleh : Imam Syafii (Guru MAN 1 Musi Rawas)

Mari kita simak ya!
Sejarah Muara Kelingi
Sebut saja kecamatan kecil itu bernama Muara Kelingi. Muara Kelingi dahulunya dikenal dengan sebuah pasar besar yang menjadi persinggahan dan pelabuhan para pedagang Palembang, Ogan, Minang, Cina, dan pribumi Muara Kelingi dalam menjajakan dagangannya sebelum berangkat menuju Kota Lubuklinggau dari Kota Palembang ataupun sebaliknya dari Kota Lubuklinggau menuju Kota Palembang. Pasar Muara Kelingi cukup dikenal oleh para pedagang kala itu, sehingga terdapat beberapa pelabuhan sebagai tempat singgah kapal-kapal perahu para pedagang.
Dalam perjalanannya menuju Kota Palembang atau sebaliknya, para pedagang ini memanfaatkan jalur air Sungai Kelingi dan Sungai Musi dengan menggunakan perahu “ketek”. Kedua sungai ini menghimpit dari sebelah kiri dan kanan wilayah ini. Sungai Musi berada di sebelah kanan, sedangkan Sungai Kelingi berada di sebelah kiri jika perjalanan kita dari arah Kota Lubuklinggau-Palembang melalui jalur darat. Pertemuan aliran dua sungai besar ini bermuara di Pasar Muara Kelingi. Selanjutnya aliran sungai ini menuju Sungai Musi di Kota Palembang. Mungkin inilah yang menyebabkan daerah ini disebut dengan Muara Kelingi, pertemuan dua aliran sungai besar, Sungai Musi dan Sungai Kelingi bermuara di Muara Kelingi.
Menurut para pedagang kala itu, perjalanan melalui jalur darat membutuhkan waktu berhari-hari, berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk sampai di Kota Palembang dari Kota Lubuklinggau atau sebaliknya. Oleh karena itu, jalur sungai dipandang lebih efisien dibandingkan jalur darat.

Desa menjadi Kelurahan
Selain dikenal sebagai pasar dengan pelabuhan kecil, Muara Kelingi adalah sebuah desa yang kemudian berubah menjadi kelurahan dan sebagai ibu kota kecamatan di tahun 1990an. Kepala desa terakhir yang tercatat sebelum menjadi wilayah kelurahan adalah Abasuni Ali, dan lurah pertama adalah Hasyim Agus. Muara Kelingi dahulunya berbatasan dengan desa Lubuk Tua di bagian Timur, dan berbatasan dengan desa Tanjung di bagian Barat. Namun karena terjadi pemekaran desa, saat ini di bagian Timur berbatasan dengan desa Lubuk Muda.
Akses jalan darat yang terus diperbaiki dan diperbaharui baik oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Musi Rawas dan Provinsi Sumatera Selatan menjadikan para pedagang mulai melirik prospek peluang ekonomi perdagangan di Kota Lubuklinggau sebagai Ibu Kota Kabupaten Musi Rawas kala itu. Terlebih sejak kejadian kebakaran hebat pada tahun 1989 di pasar Muara Kelingi yang menghanguskan ruko, kios-kios pedagang dan rumah-rumah penduduk, para pedagang mengalihkan usahanya berpindah ke Kota Lubuklinggau dan Kecamatan Tugumulyo.

Tempat Pejuang Mengatur Strategi
Selain sebagai tempat perdagangan yang terkenal, Muara Kelingi juga dikenal sebagai tempat para pejuang hebat yang menyusun taktik gerilya melawan penjajah Belanda. Muara Kelingi menjadi basis berkumpulnya para pejuang dari Lubuklinggau dalam menyusun strategi untuk menyerang penjajah Belanda yang berada di Palembang yaitu Serongsong, Muhammad Syahid bin Abustam dan pasukan Divisi II Lubuklinggau. Sehingga di Muara Kelingi terdapat makam pahlawan, selain makam Tionghoa, para saudagar pedagang Cina yang meninggal di Muara Kelingi.

Hutan Adat Bulian
Keunikan lainnya di Kecamatan Muara Kelingi adalah terdapat Hutan Adat Bulian yang terletak di Desa Beliti Jaya. Jika kita berangkat dari pusat Kecamatan Muara Kelingi menuju Desa Beliti Jaya, maka dibutuhkan waktu kurang lebih 1-1,5 jam dengan menggunakan kendaraan roda dua sesuai dengan kondisi jalan. Saat ini hutan ini telah mendapatkan pengawasan dari Dinas Kehutanan Kabupaten Musi Rawas. Banyak ditemukan pohon Ulin, atau yang disebut dengan kayu besi atau kayu hitam oleh warga Muara Kelingi. Kayu ini sudah sangat langka dan sulit ditemukan di daerah lain. Tidak kurang dari 20 ribu batang kayu ulin ditemukan di Hutan Adat Bulian ini, dan saat ini kawasan Hutan Adat Bulian menjadi kawasan yang dilindungi oleh Pemerintah Kabupaten Musi Rawas.

Kota Kecil Kecamatan
Mengapa saya sebut sebagai kota kecil? oleh karena itu adalah sebuah doa dan harapan saya suatu saatnya nanti Kecamatan Muara Kelingi akan menjadi sebuah kota kecamatan yang representatif bagi masyarakatnya. Baik sebagai kota pendidikan, kota bisnis, dan kota budaya. Saya sendiri telah tinggal dan menetap di Muara Kelingi sejak tahun 2004 silam.

Lembaga Pendidikan
Sebuah doa dan harapan. Saat ini Kecamatan Muara Kelingi menjadi satu-satunya wilayah kecamatan di Kabupaten Musi Rawas yang telah memiliki lembaga pendidikan paling lengkap mulai dari jenjang SD, SMP/MTs, SMA/MA/SMK dengan status negeri. Catat ya, status negeri agar tidak salah dimengerti. Ini artinya lembaga-lembaga pendidikan itu berada di bawah binaan dan naungan langsung pemerintah pusat, provinsi dan pemerintah daerah kabupaten.
Untuk jenjang pendidikan dasar dari RA/TK, SD, sampai SMP, menjadi tanggung jawab Pemda Kabupaten. Sementara untuk jenjang menengah atas seperti SMAN dan SMKN berada dibawah binaan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Khusus madrasah dari jenjang MIN, MTsN, MAN di bawah naungan Kementerian Agama RI dan hanya tinggal MIN yang belum dimiliki di Kecamatan Muara Kelingi.
Merujuk data yang ada di Kantor Camat Muara Kelingi, hingga saat ini terdapat 5 (lima) SMA Negeri, 1 (satu) SMK Negeri , 1 (satu) MA Negeri, dan 1 (satu) MTs Negeri. Untuk sekolah dasar, ada 4 (empat) SD Negeri, serta 1 TK Calon Negeri di lingkungan Kelurahan Muara Kelingi. Uniknya, khusus madrasah, MTs Negeri dan MA Negeri satu-satunya yang dimiliki Kabupaten Musi Rawas berada di Kecamatan Muara Kelingi dan tidak dimiliki oleh 14 kecamatan lainnya di wilayah Kabupaten Musi Rawas, sampai saat ini.


Ekonomi dan Bisnis
Untuk urusan bisnis, di Kecamatan Muara Kelingi terdapat dua minimarket yaitu Indomaret yang berdiri sejak 2018 lalu. Gedung pertama bersebelahan dengan Kantor Polsek Muara Kelingi, dan satunya lagi bersebelahan dengan Kantor Bank BRI Unit Cabang Muara Kelingi. Selain toko-toko pribadi mulai dari toko manisan, elektronik, spare part kendaraan roda dua, grosir pakaian, warung makan, mini cafe, toko buah, dan warung-warung kelontong lainnya berjajar di sepanjang Jalan Lintas Sekayu menuju ibu Kota Provinsi Palembang.
Sementara gedung perbankan pemerintah sebagai penyokong usaha masyarakat menengah kecil dan mikro di Muara Kelingi terdapat 3 bank utama yaitu Bank BRI Unit Cabang Muara Kelingi, Bank Mandiri, dan Bank Sumsel Babel Syariah. Ketiga Bank ini menjadi sumber finansial bagi usaha masyarakat dan sebagai bank penyalur program-program kemasyarakatan dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat

Budaya
Bicara budaya, Kecamatan Muara Kelingi telah menjadi salah satu icon kegiatan “Pacu Biduk”, yakni perlombaan adu cepat dayung biduk di Sungai Musi yang berada di Kecamatan Muara Kelingi. Satu biduk umumnya diisi oleh dua orang pendayung. Event ini diadakan setiap memperingati kegiatan HUT RI oleh Panitia dari kecamatan. Selain itu, dalam kurun waktu sejak tahun 2012, Kecamatan Muara Kelingi menjadi salah satu destinasi (persinggahan) dari Peserta Lomba International Triboatton mengarungi Sungai Musi yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Mengapa? Kerena Kecamatan Muara Kelingi berada di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Musi. Meskipun setiap tahunnya masyarakat harus berjibaku melawan banjir yang datang dari luapan Sungai Musi di Muara Kelingi.

Nah, itu secuil gambaran tentang kota kecil Kecamatan Muara Kelingi dimana saya kini tinggal. Meski tidak semaju kecamatan lain di Kabupaten Musi Rawas, doa dan harapan suatu masanya nanti Muara Kelingi menjadi pusat pendidikan, bisnis, dan budaya untuk memajukan peradaban dan pembangunan manusia khususnya di Kabupaten Musi Rawas.
Semoga Sobat Lage mendapatkan informasi yang cukup tentang kota kecil kecamatan kami.
Salam Literasi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar